pindah alamat ke rezanarindra.wordpress.com

dengan mengucap bismillahirrahmannirrahim, setelah melalui banyak pertimbangan.

tertanda mulai hari ini, saya akan berhenti menulis di Blog ini dan berpindah ke
http://rezanarindra.wordpress.com

Terimakasih bagi teman-teman yang sudah sering berkunjung, senang maupun kesal dengan blog ini. Apalah arti sebuah tulisan, hanyalah guratan kecil seorang manusia yang sering khilaf dan terus belajar.

Mari selamatkan dunia !!

Haha, salam perubahan..

-eja-

Keliling Indonesia (Episode Negeri Timur – Pulau Kur, Maluku Tenggara)

Alhamdulillah, selalu ada jalan untuk mencapai keinginan pribadi, yang salah satunya menjadi tren idaman anak muda Indonesia sekarang, yaitu keliling Indonesia di usia muda.

Semuanya berjalan begitu cepat. Dari debar gebyar kejar tugas akhir 4 bulan yang lalu, diterima tapi menolak untuk diikat disalah satu BUMN favorit, bercita-cita ini itu, hingga hati akhirnya luluh ketika tiba SMS dari seorang sahabat yang menawarkan untuk bekerja di salah satu perusahaan EPC spesialis Energi Terbarukan, PT. TML Energy. Hampir pasti belum pernah dengar kan? Silakan buka saja di http://tmlenergy.co.id. Ya disinilah perjalanan Keliling Indonesia (Episode Negeri Timur) dimulai.

Kebetulan sekali di bulan Mei yang lalu, kesempatan itu datang. Episode Travelling (alias dinas) dimulai dengan mengunjungi Pulau Kur, daerah Maluku Tenggara. Jalur untuk menuju Pulau Kur bisa ditempuh dengan jalur Jakarta-Ambon-Tual-Pulau Kur. Untuk Jakarta ke bandara Pattimura Ambon bisa ditempuh dengan banyak  flight. Ambon-Tual (Bandara Langgur) hanya dijangkau oleh Wings Air, dengan jadwal 2x sehari, yaitu sekitar jam 8 pagi dan jam 3 sore. Sedangkan untuk Tual ke Pulau Kur lebih spesial lagi, hanya ada 2x kali penyeberangan tiap minggu, yaitu hari Rabu dan Sabtu, sekitar jam 8 pagi. Itupun harus mengecek dulu apakah BMG sana mengijinkan Pelni untuk melakukan penyebrangan ke Kur atau tidak. Haha, berhati-hatilah untuk memilih penyebrangan di musim libur (Desember atau Juni-Juli), karena gelombang sedang tinggi-tingginya. Kapal Pelni ini akan berlayar lewat jalur Tual-Toyando-Kur, dengan harga tiket fluktuatif antara 33-40 ribu, tergantung petugas yang menjual.

Image

Suasana dermaga Pulau Kur saat pertama kali datang.

Image

Kecamatan yang sudah berada di bawah Kota Tual, rencananya akan dimekarkan menjadi 2 kecamatan.

Begitu datang di pelabuhan, akses jalan utama pulau ini campuran sebagian aspal dan sebagian tanah, sepanjang 12 km dan melewati 6 perkampungan. Untuk diketahui, bahwa daerah Maluku Tenggara ini mayoritas dihuni oleh muslim, bahkan untuk di pulau Kur ini sendiri pun 100% penghuninya adalah muslim. Beralih ke urusan perut, bermacam-macam ikan laut yang sampai ga hafal namanya udah kayak nongkrong di pinggir pantai minta ditangkepin semua. Apalagi pernah beberapa bulan sebelum penulis datang ke Pulau ini, orang-orang Kur sampai kekenyangan ikan dan banyak ikan yang terdampar di pantai pulau ini. Satu kata untuk ikan disini, “SEGAR”.

Image

Seorang polisi yang bertugas patroli di pulau ini, sedang mencari makan siang

Selain itu jagung dan kelapa juga banyak tertanam maupun ditanam di Pulau ini. Kurang sehat apalagi hidup disini? Untuk makan, bisa nego dengan warga di sana, terutama dengan mama-mamanya (mama = panggilan untuk ibu, bahasa umum di Timur). Sekali makan, mau makan nasi, indomie, pake telor ato nggak, ikan ato daging lainnya, banyak maupun sedikit, semua sama 25 ribu. Di luar dari makan, sayangnya sinyal operator telepon manapun tidak terjangkau disini. Walaupun isu-isu beredar bahwa akan segera datang tim dari INTI untuk melakukan proyek pengadaan “sinyal” di pulau ini. So sahabat-sahabat, berbahagialah dan bersiaplah untuk hidup dalam kesunyian dan kenikmatan tidak mengetahui kekacauan di Pulau Jawa. Hehehe.

Objek Wisata? Pulau inilah objek wisata sesungguhnya. Pemandangannya? Tidak perlu diragukan, pasir putih dan laut yang jernih siap memanjakan mata untuk berlama-lama dan berleha-leha menikmati pulau Kur. Silakan mencoba sekali-kali.

Image

Image

Image

View di dermaga bagian utara dan selatan

Tanah timur, tanah yang masih perawan. Sebagian surga yang jatuh ke bumi. ( pengakuan yang pernah kesana, dan sebagian besar warga disana )

Ringan-ringan saja lah

Kita hidup dalam dunia yang adil. Iya adil, karena tiap-tiap manusia diberikan rupa, usia, lingkungan sosial, yang beragam. Tidak ada yang sama dalam pemberian rezeki, jodoh, hidup, dan mati seseorang. Semua itu sudah ada ketentuannya masing-masing.

Menarik apabila kita mengulas kembali, seminggu kebelakang sudah ngapain aja? Ada yang kuliah, capek belajar, begadang, terus buat apa? Ada juga yang lagi pada kerja, nunggu besok gajian, terus capek-capek kerja, diomelin di kantor, mesti pergi pulang macet, juga terus buat apa?

Bukan ingin mengulas masalah tujuan hidup, tujuan kuliah atau tujuan kerja. Hanya bahasan sederhana, seminggu kita beraktivitas, berapa waktu kita luangkan untuk menenangkan diri, menenangkan hati maksudnya, untuk sekali saja, tarohlah setengah jam saja, ngobrol-ngobrol ringan (sekali lagi tidak berat) tentang bagaimana hafalan ayat kita? Tentang bagaimana kita ikhlas dalam bertindak? Tentang bagaimana kita bisa mencontoh tindakan-tindakan Muhammad SAW? Sudahkah meluangkan waktu untuk itu?

Waktu luang itu ga pernah ada, kecuali kita sendiri yang meluangkannya. Mumpung kamis malam, kalo kata bos saya mah, lumayan buat nyuci hati, nyegerin hati. “Nu ringan-ringan weh, supaya hati seger”, katanya.

 

Ya kalo bahas yang berat-berat mah biasanya di waktu transisi kita mau nentuin kuliah atau nentuin pas mau milih berkarier. Atau kalo lagi kebetulan aja liat presiden pidato tentang hemat energi. Bisa aja kan tiba-tiba BBM naik, terus ibu2 bisa jadi serius semua lagi, motong uang jajan kita.

Sami’na wa ato’na

Sedih rasanya melihat keadaan akhir-akhir ini. Ada sebuah benda mati yang sifatnya mudah terbakar, sedang mem’bakar’ masyarakat untuk memberikan keputusan atas perubahan harga dirinya. Membelah masyarakat, bukan hanya pada pro kontra kenaikan harganya, tapi menjadi 2 pihak yang diam atau ikut memberikan opini, atas isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Diam karena entah percaya saja, atau tidak peduli lagi.

Hal yang lumrah terjadi di masyarakat, ketika harga BBM akan naik, seketika itu pula harga kebutuhan pokok, biaya angkutan umum, hingga harga semangkok baso pun naik dari goceng jadi enam ribuan. Padahal harga BBMnya belum naik lho. Ibu di rumah saja sampai memberi titah untuk menimbun alias mengisi penuh tangki mobil-motor dengan premium, dengan alasan sederhana, “lumayanlah, ngehemat dikit mah.” Dari mulai tukang sapu, artis film horor, kiai langitan, hingga ada anak SD pun memberikan komentar tentang isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak ini, tentunya dengan jawaban-jawaban yang sudah bisa ditebak sendiri.

Beberapa kalangan mapan dan kalangan pemerintahan inti, serta partai politik pro pemerintah, selalu mengajak untuk menyetujui langkah pemerintah. Sedangkan kalangan buruh, dibantu dengan partai oposisi pemerintahan melakukan penolakan dengan dalih masih ada opsi-opsi lain yang memungkinkan untuk menyelematkan APBN tanpa harus mengurangi subsidi terhadap BBM. Penulis sendiri berada dalam pihak yang tidak pro, dan tidakpun kontra. Kita mungkin tahu SPBU juga dimiliki pengusaha-pengusaha yang berkecimpung di partai politik, sehingga ada kemungkinan kenaikan harga BBM ini akan mengurangi margin keuntungan yang mereka dapatkan dari menjual premium bukan industri ke industri, atau menjual premium ke daerah-daerah di luar jawa, bahasa kerennya penyelundupan. Menurut info yang beredar pun, harga premium di luar jawa bisa menembus Rp.20000/liter. Selain itu kita juga mungkin tahu bahwa kenaikan BBM akan memicu orang-orang untuk pindah membeli pertamax, yang ternyata harganya lebih murah di SPBU asing yang nangkring di pinggir jalan-jalan besar tengah kota.

Mau ada fakta menggegerkan apapun, yang menjadi poin penting atau akar masalahnya adalah:

kondisi dimana rakyat yang memberikan respon, tanggapan, komentar, cacian, “harusnya”, dalam bentuk apapun atas keputusan yang diberikan pemerintah, membuktikan hilangnya sifat “sami’na wa ato’na, kami dengar dan kami taat” kepada pemerintah.

Ketaatan yang hilang bisa jadi dikarenakan:  1.) Hak-hak yang tidak dapat dipenuhi;  2.)Penegakan aturan yang belum mumpuni  3.) Belum diakuinya pemerintah sebagai solusi, pemecah masalah bagi rakyat;  4.) Masyarakat tidak punya patok nilai kebenaran sebagai koridor berpikir, yang ada parameter pembanding sederhana seperti ‘lapar-kenyang’, ‘nyaman-tidak’, hingga frame “ikut masyarakat banyak.”

 

Nah, kalau sudah begini, taat bukan harga yang bisa dipaksakan, sebelum ada rasa saling percaya. Pertanyaannya bukan bisakah. Tapi, maukah kita bangun rasa saling percaya itu?

Prihatin

kurung batokeun

Jago kandang. Hal yang wajar terjadi pada tim sepakbola atau olahraga lainnya yang bisa berlaga maksimal manakala bermain di kandangnya. Wajar,  karena itu “tanah” mereka, dan karena ada orang satu sekitar satu kecamatan (ribuan-puluhan ribu) yang mendukung di belakang mereka, berteriak-teriak, bahkan mungkin siap gelut kalau ada apa-apa (baca: kalah atau dipermalukan). Namun apa jadinya bila stigma jago kandang, atau bahasa Sunda disebut kurung batokeun, melekat erat pada yang punya bahasa terjemahannya itu? Wajarkah, atau tidak? Bisa kita angkat isu ini secara sederhana.

Semua orang mengetahui bahwa tanah Sunda (Jawa bagian barat, orang Sunda terkadang tidak suka menyebut dirinya Jawa Barat, karena ada kata Jawanya), dalam kiasan mereka adalah tanah surga yang jatuh ke bumi. Punya laut dengan perikanan yang melimpah, punya kontur alam yang bermacam, objek wisata dari gunung-pantai-hingga wisata sejarah, tanah yang subur, itu semua keuntungan bawaan yang alami. Dan juga daerah yang strategis, karena entah kenapa secara beruntung menjadi penopang pusat perekonomian Indonesia (ibukota Jakarta). Di lain sisi, secara sumberdaya manusia pun, orang-orang Sunda adalah orang yang cerdas, SUka bercanDA, kritis, dan cenderung berpandangan ideal ke arah budaya alim dan tradisional (kuat kultur islami dan kultur adat budayanya).

Kita kembali kepada bagian awal tulisan, dan judul tulisan ini tentunya. Kuat kemungkinan bahwa akibat dari zona nyaman yang dibentuk dari nyamannya alam, nyamannya posisi kestrategisan, dan nyamannya kultur kekeluargaan, membuat kecenderungan kurung batokeun ini muncul. Bukan isu kesukuan yang ingin diangkat, tapi lebih kepada kurang tampaknya keberanian untuk mengeksplor dunia keluar. Hal ini tidak terjadi pada semua orang Sunda, tapi beberapa saja, karena penulis hanya mengambil sampel acak selama hidup sekitar 20 tahun di tanah Sunda ini. Hawa Bandung yang sejuk, dan masyarakat yang ramah, memang membuat Bandung (mewakili daerah Sunda) menjadi tempat favorit, bahkan untuk sekedar berweekend dari orang-orang ibukota, mungkin membuat sangat enaknya beraktivitas di daerah ini.

Namun terlepas dari pengaruh eksternal akibat budaya, alam, dan pendidikan, sudah seharusnya bahwa penulis sendiri, beserta kawan-kawan yang lain, bukan hanya terbatas pada orang Sunda (hanya contoh real saja), mulai keluar dari kebiasaan kenyamanan yang ada. Hidup dalam kenyamanan memang tidak masalah, tapi apakah sekedar mempertahankan posisi dengan keadaan sekarang, seperti kecukupan, kesederhanaan, kepasrahan, adalah cukup bagi kita? Apakah kita hidup dalam masyarakat yang berstigma: 1) yang penting bisa hidup, 2) makan ga makan, yang penting kumpul-kumpul, 3) pensiun dengan cara: bangun tidur-subuh-sarapan-ngopi-ngerek burung perkutut-baca koran-tidur pagi-dzuhur-makan-tidur siang-ashar-nurunin burung yang tadi-maghrib ke mesjid sampe isya-ngobrol di pos ronda sampe malem-tidur dan berulang lagi besok2nya?

Intinya mah, kurung batokeun ini mengurung diri pada suatu tempat/keadaan. Dan sewajarnya, dan memang seharusnya, kita keluar dari suatu tempat dan suatu keadaan, apalagi keadaan yang membuat kita terpenjara pada kenyamanan dunia. Yah, it just the fresh idea, silahkan tanggapi masing-masing, dan jalani hidup secara maksimal. Sekian.

sumber: dari halaman pertama google search dengan kata “kurung batokeun”, dan obrolan kamis malam di gelap nyawang bersama seorang sahabat.

autopilot, inisiatif

Pernah mendengar istilah autopilot? Istilah yang sering kita temukan bila menonton film atau bermain game, yaitu sebuah sistem yang membuat kendaraan mampu bergerak tanpa campur tangan pengendalinya, dalam hal ini manusia sebagai pilot atau drivernya. Baru pagi ini istilah ini kembali penulis dengar, namun bukan di ranah teknologi itu. Sembari mengaduk kopi pagi ini, sebuah stasiun TV Swasta yang sangat kritis itu, membuka editorial paginya dengan judul “Negeri Autopilot.” Bingung? Pasti tidak, kalau kita sangat mengenal baik koridor berita TV yang penulis maksud.

Ada kisah dimana jalan penghubung Jabar-Jateng yang nyaris putus, tinggal sebelah jalan, belum mendapatkan perhatian penanggungjawabnya, entah dinas atau kementrian yang punya tanggungjawabnya. Tapi warga sekitarnya, entah siapa yang menyuruh, atau mungkin nalurinya sebagai “penguasa” daerah tersebut, mengatur lalu lintas secara sukarela. Biar mobil-mobil ga pada masuk jurang katanya. Suka karena dikasi uang receh oleh yang lewat, dan rela karena diberi seadanya, hehe. Namun, bukan sukarelanya yang kita bahas, melainkan kepada niat dan pengorbanannya untuk sekedar membantu. Padahal jalur selatan Jabar-Jateng ini levelnya jalur nasional/negara, yang artinya perekonomian banyak hidup karena jalurnya (dahulu) lancar.

Ada lagi kisah-kisah serupa, tentang sendal Aal dan koin Prita. Terbukti rakyat, yang apa minta ijin dulu ke pak RT/RW atau pak kadesnya, berhasil mengatasi batas lintas kepercayaan, daerah, bahkan sosial, untuk saling mengumpulkan dukungan sendal dan koin. Tak ada yang memerintah (memberi perintah) disini, unsur peka dan peduli dari hati lah yang lebih mengajak tangan mengulur dan kaki bergerak.

Masih banyak berita lainnya, seperti komunitas Saber (Sapu Bersih) yang lagi-lagi sukarela membersihkan paku di jalanan Jakarta. Atau berita terbaru tentang anak-anak SMK Trucuk, Klaten, yang membuat mobil dengan kandungan lokal 80%. Walau memang sudah banyak SMK yang bisa membuat mobil lainnya, bahkan pesawat, dan walaupun juga karya-karya ini belum bisa besar jika belum ada industri manufakturnya, tapi ide kreatif untuk mengapresiasi hasil karya dalam negeri, tidak hanya patut diacungi jempol, ditepuk tangani, dijadikan gosip selewat, tapi juga difollowup. Lagi-lagi kita bisa melihat ketika yang berkuasa sedang sibuk dan pusingya mengatasi kemacetan, mengurangi jumlah mobil, datanglah solusi pendek dari anak-anak SMK itu.

Disini penulis bukan (hanya) ingin mengkritik pemerintah, namun secara sisi positifnya bisa diambil bahwa autopilot atau ketiadaan kendali atas apa yang terjadi pada rakyat, jangan (hanya) dipandang sebagai kurangnya perhatian pemerintah. Tapi juga bisa dirasakan bersama bahwa masa-masa sulit inilah yang membuat rakyat negeri menjadi semakin tertempa, semakin menguatkan barisan.

Ide yang muncul ditengah tekanan dan penderitaan, dipacu oleh rasa peka dan inisatif, yang apabila semua menular pada generasi muda sekarang, insya Allah stok generasi berikutnya pasti mampu membawa negeri dalam keadaan adil dan sejahtera, pasti, mari selalu optimis.

autopilot mungkin bukan dilepas liar, mungkin ajakan inisiatif bersama.

pencapaian: harta dan ilmu

ada 2 pencapaian yang selalu ingin dikuasai oleh seorang lelaki, yaitu harta dan ilmu.

Jabatan, pengaruh, kekayaan adalah harta. Sedangkan ilmu lebih pada hal yang bersifat ruhaniyah.

Namun ada 2 hal yang harus diperhatikan.

Ketika kita ingin mengejar harta, selalu lihatlah ke bawah.

Ketika kita ingin mengejar ilmu, selalu lihatlah ke atas.