About ezzazze

seorang pemuda yang senang akan hal berbau keidealan, senang berpikir, senang bertindak, dan senang bergahul tentunya

Sami’na wa ato’na

Sedih rasanya melihat keadaan akhir-akhir ini. Ada sebuah benda mati yang sifatnya mudah terbakar, sedang mem’bakar’ masyarakat untuk memberikan keputusan atas perubahan harga dirinya. Membelah masyarakat, bukan hanya pada pro kontra kenaikan harganya, tapi menjadi 2 pihak yang diam atau ikut memberikan opini, atas isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Diam karena entah percaya saja, atau tidak peduli lagi.

Hal yang lumrah terjadi di masyarakat, ketika harga BBM akan naik, seketika itu pula harga kebutuhan pokok, biaya angkutan umum, hingga harga semangkok baso pun naik dari goceng jadi enam ribuan. Padahal harga BBMnya belum naik lho. Ibu di rumah saja sampai memberi titah untuk menimbun alias mengisi penuh tangki mobil-motor dengan premium, dengan alasan sederhana, “lumayanlah, ngehemat dikit mah.” Dari mulai tukang sapu, artis film horor, kiai langitan, hingga ada anak SD pun memberikan komentar tentang isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak ini, tentunya dengan jawaban-jawaban yang sudah bisa ditebak sendiri.

Beberapa kalangan mapan dan kalangan pemerintahan inti, serta partai politik pro pemerintah, selalu mengajak untuk menyetujui langkah pemerintah. Sedangkan kalangan buruh, dibantu dengan partai oposisi pemerintahan melakukan penolakan dengan dalih masih ada opsi-opsi lain yang memungkinkan untuk menyelematkan APBN tanpa harus mengurangi subsidi terhadap BBM. Penulis sendiri berada dalam pihak yang tidak pro, dan tidakpun kontra. Kita mungkin tahu SPBU juga dimiliki pengusaha-pengusaha yang berkecimpung di partai politik, sehingga ada kemungkinan kenaikan harga BBM ini akan mengurangi margin keuntungan yang mereka dapatkan dari menjual premium bukan industri ke industri, atau menjual premium ke daerah-daerah di luar jawa, bahasa kerennya penyelundupan. Menurut info yang beredar pun, harga premium di luar jawa bisa menembus Rp.20000/liter. Selain itu kita juga mungkin tahu bahwa kenaikan BBM akan memicu orang-orang untuk pindah membeli pertamax, yang ternyata harganya lebih murah di SPBU asing yang nangkring di pinggir jalan-jalan besar tengah kota.

Mau ada fakta menggegerkan apapun, yang menjadi poin penting atau akar masalahnya adalah:

kondisi dimana rakyat yang memberikan respon, tanggapan, komentar, cacian, “harusnya”, dalam bentuk apapun atas keputusan yang diberikan pemerintah, membuktikan hilangnya sifat “sami’na wa ato’na, kami dengar dan kami taat” kepada pemerintah.

Ketaatan yang hilang bisa jadi dikarenakan:  1.) Hak-hak yang tidak dapat dipenuhi;  2.)Penegakan aturan yang belum mumpuni  3.) Belum diakuinya pemerintah sebagai solusi, pemecah masalah bagi rakyat;  4.) Masyarakat tidak punya patok nilai kebenaran sebagai koridor berpikir, yang ada parameter pembanding sederhana seperti ‘lapar-kenyang’, ‘nyaman-tidak’, hingga frame “ikut masyarakat banyak.”

 

Nah, kalau sudah begini, taat bukan harga yang bisa dipaksakan, sebelum ada rasa saling percaya. Pertanyaannya bukan bisakah. Tapi, maukah kita bangun rasa saling percaya itu?

Prihatin

kurung batokeun

Jago kandang. Hal yang wajar terjadi pada tim sepakbola atau olahraga lainnya yang bisa berlaga maksimal manakala bermain di kandangnya. Wajar,  karena itu “tanah” mereka, dan karena ada orang satu sekitar satu kecamatan (ribuan-puluhan ribu) yang mendukung di belakang mereka, berteriak-teriak, bahkan mungkin siap gelut kalau ada apa-apa (baca: kalah atau dipermalukan). Namun apa jadinya bila stigma jago kandang, atau bahasa Sunda disebut kurung batokeun, melekat erat pada yang punya bahasa terjemahannya itu? Wajarkah, atau tidak? Bisa kita angkat isu ini secara sederhana.

Semua orang mengetahui bahwa tanah Sunda (Jawa bagian barat, orang Sunda terkadang tidak suka menyebut dirinya Jawa Barat, karena ada kata Jawanya), dalam kiasan mereka adalah tanah surga yang jatuh ke bumi. Punya laut dengan perikanan yang melimpah, punya kontur alam yang bermacam, objek wisata dari gunung-pantai-hingga wisata sejarah, tanah yang subur, itu semua keuntungan bawaan yang alami. Dan juga daerah yang strategis, karena entah kenapa secara beruntung menjadi penopang pusat perekonomian Indonesia (ibukota Jakarta). Di lain sisi, secara sumberdaya manusia pun, orang-orang Sunda adalah orang yang cerdas, SUka bercanDA, kritis, dan cenderung berpandangan ideal ke arah budaya alim dan tradisional (kuat kultur islami dan kultur adat budayanya).

Kita kembali kepada bagian awal tulisan, dan judul tulisan ini tentunya. Kuat kemungkinan bahwa akibat dari zona nyaman yang dibentuk dari nyamannya alam, nyamannya posisi kestrategisan, dan nyamannya kultur kekeluargaan, membuat kecenderungan kurung batokeun ini muncul. Bukan isu kesukuan yang ingin diangkat, tapi lebih kepada kurang tampaknya keberanian untuk mengeksplor dunia keluar. Hal ini tidak terjadi pada semua orang Sunda, tapi beberapa saja, karena penulis hanya mengambil sampel acak selama hidup sekitar 20 tahun di tanah Sunda ini. Hawa Bandung yang sejuk, dan masyarakat yang ramah, memang membuat Bandung (mewakili daerah Sunda) menjadi tempat favorit, bahkan untuk sekedar berweekend dari orang-orang ibukota, mungkin membuat sangat enaknya beraktivitas di daerah ini.

Namun terlepas dari pengaruh eksternal akibat budaya, alam, dan pendidikan, sudah seharusnya bahwa penulis sendiri, beserta kawan-kawan yang lain, bukan hanya terbatas pada orang Sunda (hanya contoh real saja), mulai keluar dari kebiasaan kenyamanan yang ada. Hidup dalam kenyamanan memang tidak masalah, tapi apakah sekedar mempertahankan posisi dengan keadaan sekarang, seperti kecukupan, kesederhanaan, kepasrahan, adalah cukup bagi kita? Apakah kita hidup dalam masyarakat yang berstigma: 1) yang penting bisa hidup, 2) makan ga makan, yang penting kumpul-kumpul, 3) pensiun dengan cara: bangun tidur-subuh-sarapan-ngopi-ngerek burung perkutut-baca koran-tidur pagi-dzuhur-makan-tidur siang-ashar-nurunin burung yang tadi-maghrib ke mesjid sampe isya-ngobrol di pos ronda sampe malem-tidur dan berulang lagi besok2nya?

Intinya mah, kurung batokeun ini mengurung diri pada suatu tempat/keadaan. Dan sewajarnya, dan memang seharusnya, kita keluar dari suatu tempat dan suatu keadaan, apalagi keadaan yang membuat kita terpenjara pada kenyamanan dunia. Yah, it just the fresh idea, silahkan tanggapi masing-masing, dan jalani hidup secara maksimal. Sekian.

sumber: dari halaman pertama google search dengan kata “kurung batokeun”, dan obrolan kamis malam di gelap nyawang bersama seorang sahabat.

autopilot, inisiatif

Pernah mendengar istilah autopilot? Istilah yang sering kita temukan bila menonton film atau bermain game, yaitu sebuah sistem yang membuat kendaraan mampu bergerak tanpa campur tangan pengendalinya, dalam hal ini manusia sebagai pilot atau drivernya. Baru pagi ini istilah ini kembali penulis dengar, namun bukan di ranah teknologi itu. Sembari mengaduk kopi pagi ini, sebuah stasiun TV Swasta yang sangat kritis itu, membuka editorial paginya dengan judul “Negeri Autopilot.” Bingung? Pasti tidak, kalau kita sangat mengenal baik koridor berita TV yang penulis maksud.

Ada kisah dimana jalan penghubung Jabar-Jateng yang nyaris putus, tinggal sebelah jalan, belum mendapatkan perhatian penanggungjawabnya, entah dinas atau kementrian yang punya tanggungjawabnya. Tapi warga sekitarnya, entah siapa yang menyuruh, atau mungkin nalurinya sebagai “penguasa” daerah tersebut, mengatur lalu lintas secara sukarela. Biar mobil-mobil ga pada masuk jurang katanya. Suka karena dikasi uang receh oleh yang lewat, dan rela karena diberi seadanya, hehe. Namun, bukan sukarelanya yang kita bahas, melainkan kepada niat dan pengorbanannya untuk sekedar membantu. Padahal jalur selatan Jabar-Jateng ini levelnya jalur nasional/negara, yang artinya perekonomian banyak hidup karena jalurnya (dahulu) lancar.

Ada lagi kisah-kisah serupa, tentang sendal Aal dan koin Prita. Terbukti rakyat, yang apa minta ijin dulu ke pak RT/RW atau pak kadesnya, berhasil mengatasi batas lintas kepercayaan, daerah, bahkan sosial, untuk saling mengumpulkan dukungan sendal dan koin. Tak ada yang memerintah (memberi perintah) disini, unsur peka dan peduli dari hati lah yang lebih mengajak tangan mengulur dan kaki bergerak.

Masih banyak berita lainnya, seperti komunitas Saber (Sapu Bersih) yang lagi-lagi sukarela membersihkan paku di jalanan Jakarta. Atau berita terbaru tentang anak-anak SMK Trucuk, Klaten, yang membuat mobil dengan kandungan lokal 80%. Walau memang sudah banyak SMK yang bisa membuat mobil lainnya, bahkan pesawat, dan walaupun juga karya-karya ini belum bisa besar jika belum ada industri manufakturnya, tapi ide kreatif untuk mengapresiasi hasil karya dalam negeri, tidak hanya patut diacungi jempol, ditepuk tangani, dijadikan gosip selewat, tapi juga difollowup. Lagi-lagi kita bisa melihat ketika yang berkuasa sedang sibuk dan pusingya mengatasi kemacetan, mengurangi jumlah mobil, datanglah solusi pendek dari anak-anak SMK itu.

Disini penulis bukan (hanya) ingin mengkritik pemerintah, namun secara sisi positifnya bisa diambil bahwa autopilot atau ketiadaan kendali atas apa yang terjadi pada rakyat, jangan (hanya) dipandang sebagai kurangnya perhatian pemerintah. Tapi juga bisa dirasakan bersama bahwa masa-masa sulit inilah yang membuat rakyat negeri menjadi semakin tertempa, semakin menguatkan barisan.

Ide yang muncul ditengah tekanan dan penderitaan, dipacu oleh rasa peka dan inisatif, yang apabila semua menular pada generasi muda sekarang, insya Allah stok generasi berikutnya pasti mampu membawa negeri dalam keadaan adil dan sejahtera, pasti, mari selalu optimis.

autopilot mungkin bukan dilepas liar, mungkin ajakan inisiatif bersama.

pencapaian: harta dan ilmu

ada 2 pencapaian yang selalu ingin dikuasai oleh seorang lelaki, yaitu harta dan ilmu.

Jabatan, pengaruh, kekayaan adalah harta. Sedangkan ilmu lebih pada hal yang bersifat ruhaniyah.

Namun ada 2 hal yang harus diperhatikan.

Ketika kita ingin mengejar harta, selalu lihatlah ke bawah.

Ketika kita ingin mengejar ilmu, selalu lihatlah ke atas.

hati, akal, dan raga

Tidak lengkap rasanya bila tidak menyebutkan salah satu dari hal ini, hati, akal dan raga. Itulah 3 unsur penggerak yang ada dalam seorang manusia. 3 unsur yang diberikan sebagai potensi untuk menjalani hidup.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya ( alaa wahiyal qolbu ) ia adalah hati”. ( HR. Bukhori-Muslim ). Menurut BIMBO (dari imam al Ghazali), “hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu.”  Kebanyakan orang dalam pengambilan keputusan bahkan sering bilang, silakan ikuti kata hati. Iya tidak salah, karena memang hati-lah sebenarnya tempat yang sangat dasar, sedalam sebuah palung, dan seluas samudera.  Hatilah yang mampu mengatur segala jalannya akal, atau bahkan mampu membypass akal untuk langsung mengambil tindakan.

Kita mungkin bisa memperhatikan keadaan sekitar, dimana nyamannya suasana hati membuat orang bisa berpikir sehat, dan akhirnya mampu melakukan aktivitas secara maksimal. Makanya, sering sekali ada nasehat dari guru atau orang tua, sebelum kita menjalani ujian, wawancara, atau momen2 yg bisa menguras fisik, pikiran, bahkan adrenalin, bahwa kita harus cukup istirahat, bukan hanya agar fisik siap, tetapi juga agar suasana hati bisa tenang.

Namun terkadang terdapat kondisi2 tidak mengenakkan, sering kita temui di lalu lintas yang kita lewati hampir tiap hari. Di saat orang terburu-buru, maka benar-salah yang terpatri di akal pikiran akan terbypass oleh hati yang lebih mengedepankan baik maupun buruk. Tentunya baik di hati versi dia akan dengan cepat diterjemahkan menjadi benar di akal versi dia, sehingga apabila terjadi pelanggaran lalu lintas, senggol motor, nabrak-ditabrak, atau hal2 lainnya, cenderung akan terjadi adegan bypass ini, dimana emosi yang timbul dari hati akan langsung menciptakan tindakan emosional. Hati yang dicanangkan sebagai alat kontrol pikiran dan tindakan, tidak mampu menilai secara sehat, dan malah menimbulkan kediktatoran pada seluruh tubuh manusia itu sendiri.

Maka dari itu, hati haruslah diasah, diberi asupan gizi, layaknya raga dan akal. Raga mampu sehat karena dijaga oleh makanan, aktivitas teratur, dan istirahat. Akal mampu cekatan karena dijaga oleh proses belajar dan analisis serta bermain. Sedangkan hati itu asupannya adalah nilai-nilai ruhiyah dan semangat, serta bisa juga dari proses ritual/pendekatan dua arah antara hamba dengan Allah SWT. Teman saya pernah bilang, bahwa ibadah ritual inilah yang bisa menciptakan budaya masyarakat menjadi lebih madani dan teratur. Ketepatan waktu, kekhusyuan, serta kebersamaan dalam sholat fardhu berjamaah. Budaya puasa untuk mengurangi amarah yang meluap-luap. Rendahnya seorang hamba apabila memohon kepada Rabbnya dalam suasana berdoa. Ataupun ketenangan malam yang mampu menciptakan tenangnya suasana hati dalam Tahajjud.

Rasulullah saw pernah bersabda, “sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang berkarat”. Ketika seorang sahabat bertanya: “Bagaimana menghilangkannya?” Beliau menjawab, “Mengingat mati dan membaca Al Qur’an”.