Jago kandang. Hal yang wajar terjadi pada tim sepakbola atau olahraga lainnya yang bisa berlaga maksimal manakala bermain di kandangnya. Wajar, karena itu “tanah” mereka, dan karena ada orang satu sekitar satu kecamatan (ribuan-puluhan ribu) yang mendukung di belakang mereka, berteriak-teriak, bahkan mungkin siap gelut kalau ada apa-apa (baca: kalah atau dipermalukan). Namun apa jadinya bila stigma jago kandang, atau bahasa Sunda disebut kurung batokeun, melekat erat pada yang punya bahasa terjemahannya itu? Wajarkah, atau tidak? Bisa kita angkat isu ini secara sederhana.
Semua orang mengetahui bahwa tanah Sunda (Jawa bagian barat, orang Sunda terkadang tidak suka menyebut dirinya Jawa Barat, karena ada kata Jawanya), dalam kiasan mereka adalah tanah surga yang jatuh ke bumi. Punya laut dengan perikanan yang melimpah, punya kontur alam yang bermacam, objek wisata dari gunung-pantai-hingga wisata sejarah, tanah yang subur, itu semua keuntungan bawaan yang alami. Dan juga daerah yang strategis, karena entah kenapa secara beruntung menjadi penopang pusat perekonomian Indonesia (ibukota Jakarta). Di lain sisi, secara sumberdaya manusia pun, orang-orang Sunda adalah orang yang cerdas, SUka bercanDA, kritis, dan cenderung berpandangan ideal ke arah budaya alim dan tradisional (kuat kultur islami dan kultur adat budayanya).
Kita kembali kepada bagian awal tulisan, dan judul tulisan ini tentunya. Kuat kemungkinan bahwa akibat dari zona nyaman yang dibentuk dari nyamannya alam, nyamannya posisi kestrategisan, dan nyamannya kultur kekeluargaan, membuat kecenderungan kurung batokeun ini muncul. Bukan isu kesukuan yang ingin diangkat, tapi lebih kepada kurang tampaknya keberanian untuk mengeksplor dunia keluar. Hal ini tidak terjadi pada semua orang Sunda, tapi beberapa saja, karena penulis hanya mengambil sampel acak selama hidup sekitar 20 tahun di tanah Sunda ini. Hawa Bandung yang sejuk, dan masyarakat yang ramah, memang membuat Bandung (mewakili daerah Sunda) menjadi tempat favorit, bahkan untuk sekedar berweekend dari orang-orang ibukota, mungkin membuat sangat enaknya beraktivitas di daerah ini.
Namun terlepas dari pengaruh eksternal akibat budaya, alam, dan pendidikan, sudah seharusnya bahwa penulis sendiri, beserta kawan-kawan yang lain, bukan hanya terbatas pada orang Sunda (hanya contoh real saja), mulai keluar dari kebiasaan kenyamanan yang ada. Hidup dalam kenyamanan memang tidak masalah, tapi apakah sekedar mempertahankan posisi dengan keadaan sekarang, seperti kecukupan, kesederhanaan, kepasrahan, adalah cukup bagi kita? Apakah kita hidup dalam masyarakat yang berstigma: 1) yang penting bisa hidup, 2) makan ga makan, yang penting kumpul-kumpul, 3) pensiun dengan cara: bangun tidur-subuh-sarapan-ngopi-ngerek burung perkutut-baca koran-tidur pagi-dzuhur-makan-tidur siang-ashar-nurunin burung yang tadi-maghrib ke mesjid sampe isya-ngobrol di pos ronda sampe malem-tidur dan berulang lagi besok2nya?
Intinya mah, kurung batokeun ini mengurung diri pada suatu tempat/keadaan. Dan sewajarnya, dan memang seharusnya, kita keluar dari suatu tempat dan suatu keadaan, apalagi keadaan yang membuat kita terpenjara pada kenyamanan dunia. Yah, it just the fresh idea, silahkan tanggapi masing-masing, dan jalani hidup secara maksimal. Sekian.
sumber: dari halaman pertama google search dengan kata “kurung batokeun”, dan obrolan kamis malam di gelap nyawang bersama seorang sahabat.