Tidak lengkap rasanya bila tidak menyebutkan salah satu dari hal ini, hati, akal dan raga. Itulah 3 unsur penggerak yang ada dalam seorang manusia. 3 unsur yang diberikan sebagai potensi untuk menjalani hidup.
Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya ( alaa wahiyal qolbu ) ia adalah hati”. ( HR. Bukhori-Muslim ). Menurut BIMBO (dari imam al Ghazali), “hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu.” Kebanyakan orang dalam pengambilan keputusan bahkan sering bilang, silakan ikuti kata hati. Iya tidak salah, karena memang hati-lah sebenarnya tempat yang sangat dasar, sedalam sebuah palung, dan seluas samudera. Hatilah yang mampu mengatur segala jalannya akal, atau bahkan mampu membypass akal untuk langsung mengambil tindakan.
Kita mungkin bisa memperhatikan keadaan sekitar, dimana nyamannya suasana hati membuat orang bisa berpikir sehat, dan akhirnya mampu melakukan aktivitas secara maksimal. Makanya, sering sekali ada nasehat dari guru atau orang tua, sebelum kita menjalani ujian, wawancara, atau momen2 yg bisa menguras fisik, pikiran, bahkan adrenalin, bahwa kita harus cukup istirahat, bukan hanya agar fisik siap, tetapi juga agar suasana hati bisa tenang.
Namun terkadang terdapat kondisi2 tidak mengenakkan, sering kita temui di lalu lintas yang kita lewati hampir tiap hari. Di saat orang terburu-buru, maka benar-salah yang terpatri di akal pikiran akan terbypass oleh hati yang lebih mengedepankan baik maupun buruk. Tentunya baik di hati versi dia akan dengan cepat diterjemahkan menjadi benar di akal versi dia, sehingga apabila terjadi pelanggaran lalu lintas, senggol motor, nabrak-ditabrak, atau hal2 lainnya, cenderung akan terjadi adegan bypass ini, dimana emosi yang timbul dari hati akan langsung menciptakan tindakan emosional. Hati yang dicanangkan sebagai alat kontrol pikiran dan tindakan, tidak mampu menilai secara sehat, dan malah menimbulkan kediktatoran pada seluruh tubuh manusia itu sendiri.
Maka dari itu, hati haruslah diasah, diberi asupan gizi, layaknya raga dan akal. Raga mampu sehat karena dijaga oleh makanan, aktivitas teratur, dan istirahat. Akal mampu cekatan karena dijaga oleh proses belajar dan analisis serta bermain. Sedangkan hati itu asupannya adalah nilai-nilai ruhiyah dan semangat, serta bisa juga dari proses ritual/pendekatan dua arah antara hamba dengan Allah SWT. Teman saya pernah bilang, bahwa ibadah ritual inilah yang bisa menciptakan budaya masyarakat menjadi lebih madani dan teratur. Ketepatan waktu, kekhusyuan, serta kebersamaan dalam sholat fardhu berjamaah. Budaya puasa untuk mengurangi amarah yang meluap-luap. Rendahnya seorang hamba apabila memohon kepada Rabbnya dalam suasana berdoa. Ataupun ketenangan malam yang mampu menciptakan tenangnya suasana hati dalam Tahajjud.
Rasulullah saw pernah bersabda, “sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang berkarat”. Ketika seorang sahabat bertanya: “Bagaimana menghilangkannya?” Beliau menjawab, “Mengingat mati dan membaca Al Qur’an”.