Hasil Tausiyah hari ini, semoga membangkitkan semangat mengejar gelar Sarjana Taqwa,
disamping ke-Sarjaaan Teknik yang hanya bernilai duniawi.
———————————————————————————————————————————-
Untuk yang menjalani bulan puasa tentu sudah sangat hafal dan mahfum dengan 3 ayat di surat Al Baqarah yaitu ayat 183-185. Berikut terjemahannya.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaiman diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (183).
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (184).
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (185).
Taqwa, itulah goal akhir yang ditawarkan bagi orang-orang beriman yang berpuasa. Berpuasa pada bulan Ramadhan ini nilainya wajib, dan memiliki fungsi yang sangat penting karena Ramadhan sendiri berarti momen pembakaran. Begitu pula di Bulan Ramadhan ini terdapat suatu momen dimana dari sejarah rasulullah diceritakan bahwa pertama kalinya beliau menerima wahyu yaitu ketika Bulan Ramadhan, momen yang memutarbalikan beliau dari seorang yang bernafas logis kepada hidup yang bernafaskan wahyu Al-Quran. Suatu momen yang mengubah hidup bukan hanya beliau, tetapi juga sahabat-sahabatnya, beberapa keluarganya, melalui perjuangan Al-Quran yang memberikan petunjuk bagi manusia (nas) dan pembeda (furqan) antara haq dan bathil, dimana seluruh aspek hidup pun tentunya harus diputuskan lewat Al-Quran. Pertanyaannya, kapan momen kita?
Harapan yang besar, karena momen sekarang adalah momen Ramadhan, momen dimana makan, minum, dan hawa nafsu dijaga selama berpuasa setengah hari (bukan seharian ya..), momen dimana Al-Quran turun untuk pertama kalinya, dan apakah kita akan memanfaatkannya, tidak hanya membaca, tetapi juga memahami sekaligus mengaplikasikan pemahaman Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi Islam sebagai way of life.
Sekarang kita kembali ke bahasan awal yang sesuai judul, yaitu mengejar gelar Sarjana Taqwa setelah berpuasa. Apa itu Taqwa sebenarnya?
Guru ngaji dan guru agama kita mungkin sering menjelaskan definisi Taqwa: Menjalankan Perintah-nya dan Menjauhi Larangan-Nya. Tidak ada yang salah, namun hal tersebut dirasa kurang memadai, mengingat kita sebagai kaum intelektual bisa mengkaji sedikit mengenai definisi Taqwa. Dari Kamus bahasa Arab-Indonesia, ditemukan bentukan kata Taqwa dari kata-kata lainnya, yang bisa disimpulkan memiliki definisi pelihara, takut. Berikut kajian ayat yang bisa menjelaskan definisi Taqwa:
Ali-Imran: 131-136
Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (131).
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (132).
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133),
yaitu, orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134).
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (135).
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (136).
Dimulai dari ayat 131, dengan asal kata yang sama, taqwa diartikan memelihara diri dari api neraka, atau memelihara dari tindakan-tindakan yang bisa mengancam kita kepada jalan api neraka, walau itu hanya sebuah tindakan kecil, atau bisa dimisalkan sebuah duri yang mengganggu perjalanan. Maka ketika kita melakukan sebuah penyimpangan jalan tersebut, ada baiknya untuk mengejar ke arah Taqwa tadi kita bersegera mencari ampunan, beristigfar (ayat 133). Itulah gambaran orang bertaqwa, yang apabila dilengkapkan speknya yaitu orang yang mau meluangkan hartanya kapanpun dalam keadaan apapun, bisa menahan amarah (gambaran pada bulan Ramadhan), dan juga mau memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh indah dunia dengan keadaan Taqwa seperti ini, orang yang benar-benar bersih hati dan ikhlas, suatu goal yang diusung oleh Bulan Ramadhan. Orang-orang yang apabila melakukan kesalahan, tidak akan mengulanginya lagi, dan akan diganjar oleh ampunan dari Rabb serta Surga, dan akan kekal didalamnya apabila berhasil mempertahankan gelar Sarjana Taqwa hingga ajal menjemput. Untuk kajian lainnya, kata pelihara bisa dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 281.
Beratkah mengejar gelar Sarjana Taqwa?
Tentu iya, dan bahkan akan lebih berat ketika kita harus mempertahankan gelar Taqwa itu, harus ikhlas, totalitas dan Istiqamah. Tentunya berat akan terasa mudah bila kita melakukan perubahan, walau sedikit demi sedikit asal sedikit. Tentunya kita bisa menjadikan Bulan Ramadhan ini sebagai sarana pelatihan untuk merubah diri kita menjadi lebih baik. Dan tentunya Ramadhan ini bukan akhir, karena kembali kita diharapkan mampu bertahan dengan gelar ini hingga kita dijemput ajal kita.
Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni kita, senantiasa memberikan arah bagi hidup kita, baik kemudahan maupun kesulitan harus bisa kita hadapi, agar di pengadilan akhir nanti kita benar-benar akan diridhoi Allah SWT sebagai penghuni surga-Nya. Amin.
Sekian hasil tulis ulang hasil Tausiyah Ustadz Udin Spesial hari ini.
Billahi fii sabil haq.
—————————————————————————————————————–
-report eja, Ramadhan 1432 H-