HME ITB tidak usah mengirim perwakilan di kongres KM ITB ??
oke champ !!!
ditengah masa2 kesibukan masing2 entitas baik berupa studi, TA, PRS, kuis, kearah organisasi, kepanitiaan dan lain2, ataupun urusan pribadi lainnya,,ada sekedar info yang ingin dibagi saja.
Mengenai pencarian seorang senator baru HME ITB
Mungkin memang kurang besar gaung yang terjadi di dunia maya mengenai adanya proses pemilu senator HME ITB periode 2010/2011. Dan mungkin memang kurang besar juga bisikan-bisikan yang terjadi dari mulut ke mulut mengenai sedang dicarinya seorang senator baru HME ITB, yang dalam waktu dekat akan kosong karena PJS senator yaitu 13206088 a.k.a syakur akan melepaskan keaktifan kegiatan organisasinya di HME ITB (red: tidak menjabat sebagai pjs senator dan mpa lagi). Bagi yang sering bermain pingpong,sekedar lewat di HME, ataupun menginap tentunya lebih tahu adanya pemilu ini dari adanya gantungan bertuliskan PEMILU SENATOR, dan mading khusus yang berisikan timeline-aturan-artikel tentang senator dan pemilu senator. Dan dari pembukaan pendaftaran calon senator yang resminya dari hari senin lalu hingga hari rabu, baru ada satu orang mendaftar, yaitu INSANA-13207188, namun tidak mengembalikan berkas apapun sehingga dinyatakan bukan sebagai calon senator. Dan hearing yang sudah direncanakan pada tanggal 4 dan 9, serta pencoblosan pada tanggal 10-12 pun berada dalam keadaan yang semakin tidak jelas. Karena jelas sistem pemilu ini tetap membutuhkan input berupa bakal calon yang berupa mahasiswa tingkat 3 keatas, alias 2007,2006 dan keatasnya. Maka jika tidak ada input, proses berupa pemilu dan output berupa calon senator yang siap dilantik pun tidak akan ada.
Maka sebenarnya sekedar menaruh bola saja,
1.apakah tidak ada dari sekitar 700 massa hme dikurangi angkatan 2008, yang berminat menjadi senator baru HME ITB?
2.atau apakah senator ini merupakan sesuatu bagian yang saat ini dirasa belum diapresiasi dan tidak memiliki kejelasan kerja di HME sendiri?
ada tanggapan?
pesan sponsor: diadakan acara training SEKOLAH SENATOR oleh Arya-Syakur pada hari Sabtu-Minggu ini tanggal 13 dan 14 Februari, di HME, dengan waktu yang belum ditentukan. acara terbuka bagi seluruh massa HME ITB yang lebih ingin mengetahui segala hal mengenai senator, tugasnya, seperti apa pengalaman eks-senator, dan cerita-cerita menarik lainnya. Ditunggu bagi yang berminat ya.
Reza Narindra Muhammad / 13207081
legitimasi kita, MPA…
apa yang kita lihat bersama di televisi akhir-akhir ini, ya kehebatan akan badan legislatif yang masih mampu mengobrak-abrik rahasia dibalik hilangnya uang sebesar 6,7 triliun. Seluruh pejabat eksekutif pun mampu dipanggil seenak mereka, karena memang itu salah satu hak mereka, hak angket badan legislatif (baca: Dewan Perwakilan Rakyat). Entah kita bisa bilang apa bahwa kasus memang benar adanya permainan politik R1 dan kawan2nya, atau hanya pencemaran nama baik. Yang jelas bukan kita melihat benar tidaknya kasus Bank Century ini, namun KEHEBATAN ANGGOTA LEGISLATIF, perwakilan dan representasi rakyat, pembawa aspirasi rakyat, orang-orang berkompeten inilah yang memang patut diacungi jempol. Walau memang aneh juga jika ketua DPR yang merupakan salah satu punggawa salah satu parpol bisa diatur oleh atasannya di parpol tersebut (atasannya di parpol = R-1).
Sekarang mari kita menarik ke ranah yang lebih kecil. ITB. Ya, menurut pengakuan beberapa senator HME ke belakang (arya,syarif,syakur), legitimasi dari badan tertinggi di KM ITB memang patut dipertanyakan. Kehadiran yang jarang sempurna, masalah kepentingan2 (hegemoni beberapa pihak), ya, masalah klasik di KM ITB. Ya sudahlah, kita ikuti kata2 orang bijak saja, perbaiki diri sendiri sebelum sok-sokan memperbaiki sesuatu di luar diri sendiri.
Langsung saja kita beranjak ke tempat kita bernaung sekarang himpunan mahasiswa elektroteknik. Mungkin jika kita dilempar pertanyaan, apa saja yang terjadi dalam sebulan kebelakang di HME? Mungkin jawaban mudahnya itu liburan. Ngga salah sih, mungkin GFL?
Seharusnya jawaban yang keluar dari orang-orang terhebat di himpunan kita ini, alias anggota MPA HME ITB 2009/2010 adalah HME sedang dalam tahap musyawarah kerja. Singkat saja Muker. Suatu tahap permulaan BP pambudi n d’geng untuk memulai perjalanan belajar setahun ke depan. Tahap yang bisa dibilang sangat krusial, dan mau tidak mau seluruh anggota HME ITB harus berpartisipasi aktif pada momen ini. Minimal orang yang mewakili rakyatnya, anggota MPA sendiri. Namun memang muker kita kemaren bisa dibilang menyedihkan. Dari kira2 700 massa HME, dengan perkiraan keaktifan anggota 30%, maka tidak ada 210 orang yang datang ke muker. Mnurut presensi kehadiran BP pun hanya sekitar 90 orang yang menghadiri muker ini,
muker, wooiiii!!!! ini awal mas,kang,bang,dek,teh,neng,mbak…apakah ini bisa dibilang baik? NGGA..budaya kaya gini mesti ilang. Saya sendiri udah berjanji sewaktu saya jadi ketua MPA, bakal turut serta membantu agar MPA lebih legitimatif, lebih aktif. Tapi ini bukan tugas saya aja. Kalo saya inget dari awal kita jadi MPA, sampe sekarang, kehadiran kita sebagai MPA emang menurun drastis. Pembuatan GBK mungkin masih berbelasbelasan. Trus audiensi proker, tugas awal pengawasan kita, sudah tidak dalam kepala belasan lagi. Puncaknya saat Muker, hanya 7 orang yang berada di tempat muker, dengan sekitar 3 orang yang hadir di tempat dari awal hingga akhir. Apakah ini karena libur? Apakah benar sesuai pasal 40 GBK, HME sudah kehilangan daya tawarnya? padahal HME punya posisi strategis sebagai kokurikuler untuk mendukung kegiatan akademis.
Secara khusus, mari kita sebagai MPA selalu berkaca, bercermin. Bagaimanakah diri kita masing-masing? Apakah karena MPA tidak dibayar seperti DPR-MPR? Mungkin lebih baik jika kita ijin untuk tidak rapat di MPA lebih baik kita membuat pengumuman kepada massa HME, bahwa suara rakyat ditersampaikan di forum tertinggi? Apakah memang pantas menjadi representasi kawan-kawannya? Saya sendiri berani bilang pantas. Karena HME sudah menjadi rumah kedua, keluarga yang slalu ada bila dibutuhkan, tempat berbagi. Saya sendiri sebagai ketua MPA, bukan ketua dalam ranah komando kepada kalian. Saya hanya merupakan corong kalian, orang yang mempermudah urusan di MPA, tidak lebih dari itu. Hak saya selalu sama di tiap rapat dan sidang. Saya pun tidak menang pengalaman dalam keMPAan, karena saya juga sama-sama belajar.
Maka dari itu, ga ada salahnya kalo kita sama-sama belajar kan? Dengan background yang berbeda mari kita sama-sama berbagi, sama-sama bahu membahu. Sama-sama sadar bahwa ini adalah proses belajar bersama. Sama2 sadar bahwa kita adalah corong massa HME. Dan kita sama-sama peduli untuk memperbaiki Indonesia dalam ranah paling kecil yaitu HME ITB.
Karena kita berada dalam satu keluarga, MPA.
Karena kita berada dalam satu keluarga, HME ITB.
Karena kita berada dalam satu keluarga, Indonesia.
Reza Narindra Muhammad/13207081
Ketua MPA HME ITB 2009/2010
itu hanya besi murah, bukan perak
minggu awal januari adalah minggu yang bisa dibilang BERAT untuk mahasiswa ITB. UAS lah bisa disebut seperti itu. Dan kebetulan di sela-sela UAS yang padat itu, urang masi menyempatkan lah jalan-jalan buat ini itu hari kamis 7 januari 2010. Hari itu seperti hari-hari biasanya, saya keliling buat ngebenerin kartu ATM yang pin nya mesti diganti karena lupa. Terus ya karena merasa bosan, dan mengingat musim hujan, saya merasa helm mesti diganti. Dan akhirnya dengan bermodal uang 200rebu urang menyusuri daerah pungkur untuk mencari-cari helm yang sedikit murah dan melindungi lah saat-saat hujan. Akhirnya ditemukanlah helm half-face biru-hitam merek biasa saja yang standarnya SNI. 115rebu lah, lumayan. Langsung pakai. Dan waktu naik motor teringat ujung stang motor kiri yang bengkok karena jatuh 3 bulan yang lalu. Alhasil sekalian karena toko menyediakan barang yang urang inginkan, akhirnya dibelilah ujung stang itu dengan harga 13rebu. Diganti lah kiri kanan sekalian, karena ganti dari warna hitam ke yang rada mengkilap. Chrome gitu lah. Murah tapi mantap kerennya. Lalu langsung pulanglah karena cuaca sedang tidak bersahabat.
Hari seninnya, aktivitas liburan mahasiswa kembali saya lakukan dari siang. Internetan gratis di kampus, rapat saat liburan, cari-cari ide buat jalan-jalan. Setelah waktu mencapai jam 7 malam pun, seperti biasalah karena ga boleh pulang malem-malem ya berjalan kakilah saya ke parkir belakang setelah makan di javan bareng kawan2. Dan karena selasa nya mau jalan-jalan jauh keluar bandung, dari parkir belakang ITB, motor digeber ke ATM. Dan setelah ngambil uang, lho kok, ujung stangnya ga ada satu?? Jatoh mungkin ya..dicari2, euweuh euy. Kembali ke parkiran belakang ketemu pak satpam pun ditanya-tanya dan dicari 10 menit, ternyata tidak ada lagi. “yah, padahal baru beli euy, langsung ilang.” Ya sudahlah saya pulang sajalah karena sudah pesimis.
Dalam perjalanan pulang di motor pun urang berpikir. Pada pemikiran angel and demon. Ini barang apa bener2 jatoh? Apa digondol orang? Hem, kemungkinan kedua paling logis, soalnya ga mungkin lepas soalnya disekrup kenceng. Yah maling di parkiran belakang mah mantap punya lah. Helm, kadang ban depan doang dicuri, konci cakram digondol pula (buat menunjukkan bahwa dia jago), dan tentunya motor pun memang sering hilang. Lha itu dia, pinggiran stangnya warna chrome, kaya silver-silver gitu lah. Dikiranya mahal mungkin, padahal cuma 13rebu sepasang.
Memang udah menjadi realita kalo masi banyak orang butuh uang buat makan. Hidup itu udah harga mati. Yang penting bisa hidup, entah cara yang menurut orang itu halal kaya jual diri nyolong, ngebunuh, pindah agama bahkan. Udah jadi kasus umum di nusantara masalah seperti itu mah. Dan harusnya orang-orang yang udah bisa makan, bisa tidur enak, halusnya berpendidikan, bisa minimal punya sense hal sosial, lebih bagus punya ide buat ngeberesin masalah dasar dunia ini, konspirasi kebodohan + kemiskinan demi kekuasaan suatu pihak.
Beberapa orang mungkin buta mata, tapi mata hatinya ngga buta.
Tapi mayoritas orang punya mata buat ngeliat, sementara mata hatinya ketutup.
Padahal mata hati itulah kunci melihat dan menggapai kebenaran.
Kebenaran yang dirindukan seluruh manusia, alam dan penciptanya.
tulisan adalah buah pemikiran, bukti bahwa hidup dan mati kita mampu memberi arti
berpikir dengan akal
memilah dengan hati
bergerak dengan raga
namun
ketika
tiada akal
tiada hati
tiada raga
hanyalah sebuah coretan yang bisa dilihat
bukti bahwa hidup itu ada
bukti bahwa peradaban itu ada
oleh: Reza Narindra Muhammad
mahasiswa
oleh: Reza Narindra Muhammad
seorang muda berkata, ” Saya berkuliah di ITB, institut terbaik bangsa. Pasti ntar gampang cari kerjanya, gampang jodohnya. Apapun jurusan di ITB mah pasti saya sukses.”
Sejenak berpikir ala definisi saya, mahasiswa adalah siswa namun bergelar maha. Maha sendiri dikatakan seperti sebutan untuk suatu kelebihan sifat, seperti sifat yang dimiliki oleh Allah SWT. Maka, mahasiswa bisa diartikan seorang terdidik yang memiliki suatu kelebihan, bahkan sangat lebih dibanding jenjang pendidikan sebelumnya. Dan secara memasyarakat, dan begitupun penulis, kata mahasiswa identik dengan mahasiswa S1. Entah mengapa, namun usia mahasiswa yang muda, energik, idealis membuatnya menjadi garda tengah negeri, seorang tengah yang bisa naik untuk kritis dan bisa turun untuk menolong. Memang sangat ideal posisinya, atau entah didefinisikan sebagai peran/fungsi. Yang pasti, karena sedang dalam berada ada suatu jalan bercabang yang mampu menuntunnya menjadi apapun di kemudian hari (politikus,profesionalis karir,pengusaha,rakyat biasa), maka sifat ideal, selalu menuntut kebenaran ilmiah sepertinya terpatri dengan baik pada diri seorang mahasiswa. Tapi sebelum beranjak lebih jauh lagi, mahasiswa disini mungkin berbeda definisi dengan anda, namun saya coba memperlihatkan suatu sudut pandang ala saya saja.
Mahasiswa, seperti kata-kata dari beberapa baris diatas, adalah terdidik yang lebih. Seseorang yang bila bisa memanfaatkan banyak peluang, akan mendapatkan banyak sekali mendapat pembelajaran, baik dari keberhasilan tindakannya maupun kegagalannya. Seseorang yang bebas berpikir. Seseorang yang berada pada usia produktifnya. Seseorang yang selain memiliki tugas selain sebagai insan akademis, si terdidik juga punya tugas sebagai ekstrimis. Maksudnya, masih bisa melakukan tindakan secara maksimal baik salah atau benarm dimana masih dapat ditolerisasi dalam ranah baik/buruk saja. Saat-saat inilah dimana segala potensi bisa dieksplor dan dikembangkan secara maksimal dan optimal.
Namun ada kecenderungan akan 2 hal. Pertama, mahasiswa yang terlalu bebas sehingga bergerak tanpa arahan dan tujuan yang jelas. Dan lainnya yaitu mahasiswa yang terlalu kaku akan sistem yang ada, entah sistem dari perguruan tingginya, maupun pengekangan cara berpikirnya yang merupakan dampak sistem yang pernah dipatuhinya. Mungkin anda tidak setuju dan merasa anda adalah mahasiswa dalam kecenderungan ke 3 yaitu gabungan antaranya keduanya, yang mengambil nilai-nilai positif ala anda saja. Saya tidak menyalahkan, namun memang semua analogi dunia dan perbedaan itu hanya berujung pada dua hal, hitam-putih, gelap-terang, siang-malam, ada-tiada, surga-neraka. Dan pilihan kita untuk menjadi kecenderungan ke 3 adalah baik jika pada ujungnya kita akan mencapai salah satu terminal tujuan, yaitu nilai benar.
Jika tugas dari perguruan tinggi untuk mahasiswa menurut bung Hatta adalah pendidikan-penelitian-pengabdian masyarakat, maka inilah karakter mahasiswa yang harusnya dimiliki oleh seorang mahasiswa, yaitu:
pendidikan-penelitian-pengabdian masyarakat yang melahirkan mahasiswa cerdas. Maksudnya adalah punya modal nyata selain modal semangat dan memiliki bukti karya dari bidang keilmuannya. Modal yang dimaksud cakupannya luas, karya yang dimaksud juga bukan hanya barang, tapi bisa juga pemikiran atau minimal kecenderungan, dan terakhir mereka tahu mereka harus bergerak kemana. Tujuan ditetapkan pada awal perjalanan dan harus selalu direcheck dalam jangka waktu tertentu. Karena bisa saja terjadi eskalasi tujuan bila capaian-capaian telah terlaksana. Namun jangan sampai progress ataupun result yang tidak sesuai harapan mempengaruhi emosi dan konsentrasi serta konsistensi jangka panjang. Untuk itulah harus selalu adanya recheck.
mahasiswa berkomunitas. Mahasiswa yang sering disebut2 sering berdemo sehingga punya fungsi vertikal, ke atas (berkritik dan siap menjadi bagian dari atas) dan ke bawah (menolong), harus memiliki peran horizontal dalam mempersiapkan modal diri dan komunitas untuk menjaga keidealannya, dalam jangka waktu baik selama menjadi mahasiswa, maupun tidak. Tentunya setelah memiliki modal cukup banyak, selanjutnya tahu harus bergerak kemana, maka penjagaan keidealan dilakukan dalam suatu komunitas, entah sekedar teman bermain atau dalam ranah organisasi kemahasiswaan. Kita tidak tahu ada faktor X apa yang akan mengancam kita di masa depan, mungkin saja teman yang hanya berkenalan 5 menit di masa lalu mampu memberikan beberapa tetes darah untuk menyelamatkan nyawa kita. Prinsip berteman dan menjadikannya keluarga bukan hanya disaat butuh saja inilah yang harus dipegang teguh, walau nantinya kita masuk surga sendiri-sendiri, namun saling bahu membahu untuk kesana tidak pernah disalahkan bukan?? Lalu organisasi kemahasiswaan inilah selain ruang vakum keidealan, juga tempat transfer ilmu, tempat menempa diri. Kaderisasi dan regenerasi yang menciptakan mahasiswa dengan sebuah karakter ideal, iron stock yang selalu dipanggil-panggil dan dicari-cari kontribusinya oleh rakyat, harus siap untuk terjun ke dunia nyata setelah asyik berkutat dengan pembelajarannya selama menjadi mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan yang terus mengalir, entah dikarenakan kesamaan bidang profesi, hobi, idealisme, harus selalu memperbaiki diri dan nilai-nilai didalamnya, mengikuti perkembangan jaman namun tidak terinfiltrasi oleh nilai non-idealisme, sehingga sangat diharapkan selalu ada nilai-nilai luhur yang dipegang dan merupakan hal baik (karena benar itu relatif). Patokan nilai harus ada, namun jangan sampai fokus hanya pada membenarkan sistem, sehingga kenikmatan pembelajaran menjadi hilang. Kedua nilai itu harus tetap seimbang.
Sebenarnya masih banyak nilai-nilai yang bisa dijadikan pegangan bagi seorang mahasiswa. Selain kesadaran dan kesiapan akan nilai-nilai di atas, kekuatan bersama yaitu komunitas selalu menjadi senjata. Jangan sampai seorang mahasiswa dibonceng oleh kepentingan-kepentingan yang bisa merusak keidealannya. Karana mahasiswa mampu menjadi kekuatan yang ditakuti selain penguasa dan oposisi. Ingat tahun 66 dan 98, dua pemimpin berhasil digulingkan, salah satu akibat andil mahasiswa. Namun tentunya saya bukan mengajak mahasiswa sekarang untuk berdemo anti penguasa sekarang. Yang perlu diperhatikan adalah sifat kritis kita, punya rencana jitu untuk berpikir idealis, mencoba mengembalikan kejayaan Indonesia, menciptakan kemerdekaan sebenarnya dan berteriak dengan lantang untuk mengikis kemiskinan dan pembodohan rakyat. Rakyat yang kita bela dan akan membela yang benar.
berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat
kusampaikan salam-salam perjuangan
kami semua cinta, cinta Indonesia