tulisan adalah buah pemikiran, bukti bahwa hidup dan mati kita mampu memberi arti

kurung batokeun

Posted in opini by ezzazze on January 20, 2012

Jago kandang. Hal yang wajar terjadi pada tim sepakbola atau olahraga lainnya yang bisa berlaga maksimal manakala bermain di kandangnya. Wajar,  karena itu “tanah” mereka, dan karena ada orang satu sekitar satu kecamatan (ribuan-puluhan ribu) yang mendukung di belakang mereka, berteriak-teriak, bahkan mungkin siap gelut kalau ada apa-apa (baca: kalah atau dipermalukan). Namun apa jadinya bila stigma jago kandang, atau bahasa Sunda disebut kurung batokeun, melekat erat pada yang punya bahasa terjemahannya itu? Wajarkah, atau tidak? Bisa kita angkat isu ini secara sederhana.

Semua orang mengetahui bahwa tanah Sunda (Jawa bagian barat, orang Sunda terkadang tidak suka menyebut dirinya Jawa Barat, karena ada kata Jawanya), dalam kiasan mereka adalah tanah surga yang jatuh ke bumi. Punya laut dengan perikanan yang melimpah, punya kontur alam yang bermacam, objek wisata dari gunung-pantai-hingga wisata sejarah, tanah yang subur, itu semua keuntungan bawaan yang alami. Dan juga daerah yang strategis, karena entah kenapa secara beruntung menjadi penopang pusat perekonomian Indonesia (ibukota Jakarta). Di lain sisi, secara sumberdaya manusia pun, orang-orang Sunda adalah orang yang cerdas, SUka bercanDA, kritis, dan cenderung berpandangan ideal ke arah budaya alim dan tradisional (kuat kultur islami dan kultur adat budayanya).

Kita kembali kepada bagian awal tulisan, dan judul tulisan ini tentunya. Kuat kemungkinan bahwa akibat dari zona nyaman yang dibentuk dari nyamannya alam, nyamannya posisi kestrategisan, dan nyamannya kultur kekeluargaan, membuat kecenderungan kurung batokeun ini muncul. Bukan isu kesukuan yang ingin diangkat, tapi lebih kepada kurang tampaknya keberanian untuk mengeksplor dunia keluar. Hal ini tidak terjadi pada semua orang Sunda, tapi beberapa saja, karena penulis hanya mengambil sampel acak selama hidup sekitar 20 tahun di tanah Sunda ini. Hawa Bandung yang sejuk, dan masyarakat yang ramah, memang membuat Bandung (mewakili daerah Sunda) menjadi tempat favorit, bahkan untuk sekedar berweekend dari orang-orang ibukota, mungkin membuat sangat enaknya beraktivitas di daerah ini.

Namun terlepas dari pengaruh eksternal akibat budaya, alam, dan pendidikan, sudah seharusnya bahwa penulis sendiri, beserta kawan-kawan yang lain, bukan hanya terbatas pada orang Sunda (hanya contoh real saja), mulai keluar dari kebiasaan kenyamanan yang ada. Hidup dalam kenyamanan memang tidak masalah, tapi apakah sekedar mempertahankan posisi dengan keadaan sekarang, seperti kecukupan, kesederhanaan, kepasrahan, adalah cukup bagi kita? Apakah kita hidup dalam masyarakat yang berstigma: 1) yang penting bisa hidup, 2) makan ga makan, yang penting kumpul-kumpul, 3) pensiun dengan cara: bangun tidur-subuh-sarapan-ngopi-ngerek burung perkutut-baca koran-tidur pagi-dzuhur-makan-tidur siang-ashar-nurunin burung yang tadi-maghrib ke mesjid sampe isya-ngobrol di pos ronda sampe malem-tidur dan berulang lagi besok2nya?

Intinya mah, kurung batokeun ini mengurung diri pada suatu tempat/keadaan. Dan sewajarnya, dan memang seharusnya, kita keluar dari suatu tempat dan suatu keadaan, apalagi keadaan yang membuat kita terpenjara pada kenyamanan dunia. Yah, it just the fresh idea, silahkan tanggapi masing-masing, dan jalani hidup secara maksimal. Sekian.

sumber: dari halaman pertama google search dengan kata “kurung batokeun”, dan obrolan kamis malam di gelap nyawang bersama seorang sahabat.

autopilot, inisiatif

Posted in opini by ezzazze on January 12, 2012

Pernah mendengar istilah autopilot? Istilah yang sering kita temukan bila menonton film atau bermain game, yaitu sebuah sistem yang membuat kendaraan mampu bergerak tanpa campur tangan pengendalinya, dalam hal ini manusia sebagai pilot atau drivernya. Baru pagi ini istilah ini kembali penulis dengar, namun bukan di ranah teknologi itu. Sembari mengaduk kopi pagi ini, sebuah stasiun TV Swasta yang sangat kritis itu, membuka editorial paginya dengan judul “Negeri Autopilot.” Bingung? Pasti tidak, kalau kita sangat mengenal baik koridor berita TV yang penulis maksud.

Ada kisah dimana jalan penghubung Jabar-Jateng yang nyaris putus, tinggal sebelah jalan, belum mendapatkan perhatian penanggungjawabnya, entah dinas atau kementrian yang punya tanggungjawabnya. Tapi warga sekitarnya, entah siapa yang menyuruh, atau mungkin nalurinya sebagai “penguasa” daerah tersebut, mengatur lalu lintas secara sukarela. Biar mobil-mobil ga pada masuk jurang katanya. Suka karena dikasi uang receh oleh yang lewat, dan rela karena diberi seadanya, hehe. Namun, bukan sukarelanya yang kita bahas, melainkan kepada niat dan pengorbanannya untuk sekedar membantu. Padahal jalur selatan Jabar-Jateng ini levelnya jalur nasional/negara, yang artinya perekonomian banyak hidup karena jalurnya (dahulu) lancar.

Ada lagi kisah-kisah serupa, tentang sendal Aal dan koin Prita. Terbukti rakyat, yang apa minta ijin dulu ke pak RT/RW atau pak kadesnya, berhasil mengatasi batas lintas kepercayaan, daerah, bahkan sosial, untuk saling mengumpulkan dukungan sendal dan koin. Tak ada yang memerintah (memberi perintah) disini, unsur peka dan peduli dari hati lah yang lebih mengajak tangan mengulur dan kaki bergerak.

Masih banyak berita lainnya, seperti komunitas Saber (Sapu Bersih) yang lagi-lagi sukarela membersihkan paku di jalanan Jakarta. Atau berita terbaru tentang anak-anak SMK Trucuk, Klaten, yang membuat mobil dengan kandungan lokal 80%. Walau memang sudah banyak SMK yang bisa membuat mobil lainnya, bahkan pesawat, dan walaupun juga karya-karya ini belum bisa besar jika belum ada industri manufakturnya, tapi ide kreatif untuk mengapresiasi hasil karya dalam negeri, tidak hanya patut diacungi jempol, ditepuk tangani, dijadikan gosip selewat, tapi juga difollowup. Lagi-lagi kita bisa melihat ketika yang berkuasa sedang sibuk dan pusingya mengatasi kemacetan, mengurangi jumlah mobil, datanglah solusi pendek dari anak-anak SMK itu.

Disini penulis bukan (hanya) ingin mengkritik pemerintah, namun secara sisi positifnya bisa diambil bahwa autopilot atau ketiadaan kendali atas apa yang terjadi pada rakyat, jangan (hanya) dipandang sebagai kurangnya perhatian pemerintah. Tapi juga bisa dirasakan bersama bahwa masa-masa sulit inilah yang membuat rakyat negeri menjadi semakin tertempa, semakin menguatkan barisan.

Ide yang muncul ditengah tekanan dan penderitaan, dipacu oleh rasa peka dan inisatif, yang apabila semua menular pada generasi muda sekarang, insya Allah stok generasi berikutnya pasti mampu membawa negeri dalam keadaan adil dan sejahtera, pasti, mari selalu optimis.

autopilot mungkin bukan dilepas liar, mungkin ajakan inisiatif bersama.

pencapaian: harta dan ilmu

Posted in Ikhlas-Totalitas-Istiqamah by ezzazze on November 28, 2011

ada 2 pencapaian yang selalu ingin dikuasai oleh seorang lelaki, yaitu harta dan ilmu.

Jabatan, pengaruh, kekayaan adalah harta. Sedangkan ilmu lebih pada hal yang bersifat ruhaniyah.

Namun ada 2 hal yang harus diperhatikan.

Ketika kita ingin mengejar harta, selalu lihatlah ke bawah.

Ketika kita ingin mengejar ilmu, selalu lihatlah ke atas.

hati, akal, dan raga

Posted in Ikhlas-Totalitas-Istiqamah by ezzazze on November 26, 2011

Tidak lengkap rasanya bila tidak menyebutkan salah satu dari hal ini, hati, akal dan raga. Itulah 3 unsur penggerak yang ada dalam seorang manusia. 3 unsur yang diberikan sebagai potensi untuk menjalani hidup.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya ( alaa wahiyal qolbu ) ia adalah hati”. ( HR. Bukhori-Muslim ). Menurut BIMBO (dari imam al Ghazali), “hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu.”  Kebanyakan orang dalam pengambilan keputusan bahkan sering bilang, silakan ikuti kata hati. Iya tidak salah, karena memang hati-lah sebenarnya tempat yang sangat dasar, sedalam sebuah palung, dan seluas samudera.  Hatilah yang mampu mengatur segala jalannya akal, atau bahkan mampu membypass akal untuk langsung mengambil tindakan.

Kita mungkin bisa memperhatikan keadaan sekitar, dimana nyamannya suasana hati membuat orang bisa berpikir sehat, dan akhirnya mampu melakukan aktivitas secara maksimal. Makanya, sering sekali ada nasehat dari guru atau orang tua, sebelum kita menjalani ujian, wawancara, atau momen2 yg bisa menguras fisik, pikiran, bahkan adrenalin, bahwa kita harus cukup istirahat, bukan hanya agar fisik siap, tetapi juga agar suasana hati bisa tenang.

Namun terkadang terdapat kondisi2 tidak mengenakkan, sering kita temui di lalu lintas yang kita lewati hampir tiap hari. Di saat orang terburu-buru, maka benar-salah yang terpatri di akal pikiran akan terbypass oleh hati yang lebih mengedepankan baik maupun buruk. Tentunya baik di hati versi dia akan dengan cepat diterjemahkan menjadi benar di akal versi dia, sehingga apabila terjadi pelanggaran lalu lintas, senggol motor, nabrak-ditabrak, atau hal2 lainnya, cenderung akan terjadi adegan bypass ini, dimana emosi yang timbul dari hati akan langsung menciptakan tindakan emosional. Hati yang dicanangkan sebagai alat kontrol pikiran dan tindakan, tidak mampu menilai secara sehat, dan malah menimbulkan kediktatoran pada seluruh tubuh manusia itu sendiri.

Maka dari itu, hati haruslah diasah, diberi asupan gizi, layaknya raga dan akal. Raga mampu sehat karena dijaga oleh makanan, aktivitas teratur, dan istirahat. Akal mampu cekatan karena dijaga oleh proses belajar dan analisis serta bermain. Sedangkan hati itu asupannya adalah nilai-nilai ruhiyah dan semangat, serta bisa juga dari proses ritual/pendekatan dua arah antara hamba dengan Allah SWT. Teman saya pernah bilang, bahwa ibadah ritual inilah yang bisa menciptakan budaya masyarakat menjadi lebih madani dan teratur. Ketepatan waktu, kekhusyuan, serta kebersamaan dalam sholat fardhu berjamaah. Budaya puasa untuk mengurangi amarah yang meluap-luap. Rendahnya seorang hamba apabila memohon kepada Rabbnya dalam suasana berdoa. Ataupun ketenangan malam yang mampu menciptakan tenangnya suasana hati dalam Tahajjud.

Rasulullah saw pernah bersabda, “sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang berkarat”. Ketika seorang sahabat bertanya: “Bagaimana menghilangkannya?” Beliau menjawab, “Mengingat mati dan membaca Al Qur’an”.

empat muda dan dua mudi

Posted in Uncategorized by ezzazze on September 9, 2011

4 muda dan 2 mudi

kesenangan untuk bercerita
keengganan untuk berada dalam kestatisan
ketidaksabaran untuk mengekspresikan segala masalah dan keinginan

mengobrol, bukan solusi akhir, tapi metode dan pencerahan tuk semakin mencari
rajin menggali dengan angka, huruf, dan ucap dalam bentuk bukti
ikatan tali itu yang membuat berkobarnya rasa kangen dalam hati
untuk bertemu kawan-kawanku, lagi dan lagi
sekedar mengopi dan curhat sana sini

itu untuk membina diri,
mengabari kawan,
dan mencari tahu apa (bukan siapa) lawan kita

untuk melangkahkan kaki pada hidup yang lebih berarti
teruslah mencari kawan, arungi luasnya dunia

namun tak lupa sekedar nasihat padamu semua
untuk tetap sembahyang dan berdoa

malam tetap dingin, dan akan selalu dingin, menjelang 10 September 2011…
endless life discussion…

Tiada jalan pintas

Posted in cerita unik keseharian by ezzazze on August 17, 2011

Jalan Pintas? Sebenarnya kalau sedang menunggangi sepeda motor, inilah jalan favorit saya. Alasannya?
Jalan yang biarkan jauh, peduli amat sempitnya, asal bisa membuat lebih cepat sampai tujuan saja. Contoh realnya, jalan ujung kompleks kanayakan yang tembus dengan jalan cigadung raya barat. Beuh, itu jalan favorit pisan lah buat cepet sampe kampus pokoknya, ga ada macet2nya, ga ada bolong2nya. Maka simpulan awalnya jalan pintas = jalan cepat.

Tapi tahukah, itu mungkin bukan penganalogian yang tepat untuk jalan pintas yang akan saya habisi disini. “Jalan Pintas” yang dimaksudkan oleh penulis disini adalah jalan cepat, instan dan lebih pendek, yang berhubungan dengan kehidupan. Penulis berpegang teguh pada prinsip bahwa kompetensi dan pengaruh dibangun karena adanya pengalaman, yang tentunya terbentuk dari faktor suka maupun duka. Bahkan sampai sekarang penulis tidak bisa tahu apakah sudah dewasa atau belum. Suatu hal yang bisa diketahui dari voting pendapat beberapa orang-orang dekat. Tapi tentunya, semua orang tahu, dewasa itu proses, butuh waktu. Begitupun frase kata lain yang berkaitan dengan kata umum, Perubahan. Perubahan tidak ada yang instan.

Penulis pernah mengalami masa dimana terdapat proses-proses instan yang menciptakan hasil memuaskan. Contoh sederhana, ketika menjadi mahasiswa acapkali kita menghadapi UTS dengan melakukan belajar sistem SKS, dimana kita mengurangi waktu tidur dan benar-benar mengejar materi sampai waktu pagi sebelum ujian. Penulis berani bilang hampir semua nilai  penulis bagus dikarenakan proses seperti itu, proses yang membuat kita menjadi cepat ingat pada gambaran dan tulisan materi yang akan diujikan. Namun perlu diingat bahwa, cepat ingat selalu berkaitan dengan cepat lupa. Ilmu yang ada hangus hanya untuk mengerjakan ujian saja.

Contoh lain yaitu ketika menjalani amanah. Orang perlu paham segala teknis lapangan, bahkan pernah punya pengalaman banyak disana, sebelum benar-benar pandai mendesain konsep sebuah acara. Namun ketika kita bergerak langsung pada pucuk tanpa mengerti apa yang terjadi pada grassroot,  maka bersiaplah menghadapi kekacauan apabila tidak pandai memanggil bala bantuan. Mungkin itu gambaran para pimpinan-pimpinan sekarang, menang dari kepopuleran, instan.

Jalan pintas dengan 2 contoh sederhana sebelumnya mungkin menjelaskan hal sederhana bahwa efek sampingnya sangat besar dan menyimpulan suatu hal sederhana:
[Jalan Pintas + Waktu dan usaha menyelesaikan efek samping] > waktu, cerita, dan usaha dari pengalaman yang seharusnya

Anda boleh setuju atau tidak, namun pengalaman sudah mengatakan bahwa jalan pintas selain jalan pintas motor selalu meninggalkan noda dan kesalahan atau masalah yang harus ditutupi dan diselesaikan. Penulis pun mengajak masing-masing pribadi untuk melakukan evaluasi diri sebelum berani bergerak ke ranah yang lebih besar dan kompleks.

Namun jangan jadikan diri menjadi ciut. Lakukan yang terbaik dari sekarang, dan bermimpilah hal yang besar. Karena mimpi tidak akan pernah dilarang.

Hidup Jalan Raya !!!!
(woipamarentah, eta jalan bolong-bolong wae, betulkeun ah..)

-eja-

mengejar ST (Sarjana Taqwa)

Posted in Ikhlas-Totalitas-Istiqamah by ezzazze on August 10, 2011

Hasil Tausiyah hari ini, semoga membangkitkan semangat mengejar gelar Sarjana Taqwa,
disamping ke-Sarjaaan Teknik yang hanya bernilai duniawi.
———————————————————————————————————————————-

Untuk yang menjalani bulan puasa tentu sudah sangat hafal dan mahfum dengan 3 ayat di surat Al Baqarah yaitu ayat 183-185. Berikut terjemahannya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaiman diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (183).
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (184).
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (185).

Taqwa, itulah goal akhir yang ditawarkan bagi orang-orang beriman yang berpuasa. Berpuasa pada bulan Ramadhan ini nilainya wajib, dan memiliki fungsi yang sangat penting karena Ramadhan sendiri berarti momen pembakaran. Begitu pula di Bulan Ramadhan ini terdapat suatu momen dimana dari sejarah rasulullah diceritakan bahwa pertama kalinya beliau menerima wahyu yaitu ketika Bulan Ramadhan, momen yang memutarbalikan beliau dari seorang yang bernafas logis kepada hidup yang bernafaskan wahyu Al-Quran. Suatu momen yang mengubah hidup bukan hanya beliau, tetapi juga sahabat-sahabatnya, beberapa keluarganya, melalui perjuangan Al-Quran yang memberikan petunjuk bagi manusia (nas) dan pembeda (furqan) antara haq dan bathil, dimana seluruh aspek hidup pun tentunya harus diputuskan lewat Al-Quran. Pertanyaannya, kapan momen kita?

Harapan yang besar, karena momen sekarang adalah momen Ramadhan, momen dimana makan, minum, dan hawa nafsu dijaga selama berpuasa setengah hari (bukan seharian ya..), momen dimana Al-Quran turun untuk pertama kalinya, dan apakah kita akan memanfaatkannya, tidak hanya membaca, tetapi juga memahami sekaligus mengaplikasikan pemahaman Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi Islam sebagai way of life.

Sekarang kita kembali ke bahasan awal yang sesuai judul, yaitu mengejar gelar Sarjana Taqwa setelah berpuasa. Apa itu Taqwa sebenarnya?
Guru ngaji dan guru agama kita mungkin sering menjelaskan definisi Taqwa: Menjalankan Perintah-nya dan Menjauhi Larangan-Nya. Tidak ada yang salah, namun hal tersebut dirasa kurang memadai, mengingat kita sebagai kaum intelektual bisa mengkaji sedikit mengenai definisi Taqwa. Dari Kamus bahasa Arab-Indonesia, ditemukan bentukan kata Taqwa dari kata-kata lainnya, yang bisa disimpulkan memiliki definisi pelihara, takut. Berikut kajian ayat yang bisa menjelaskan definisi Taqwa:

Ali-Imran: 131-136
Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (131).

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (132).
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133),
yaitu, orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134).
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (135).
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (136).

Dimulai dari ayat 131, dengan asal kata yang sama, taqwa diartikan memelihara diri dari api neraka, atau memelihara dari tindakan-tindakan yang bisa mengancam kita kepada jalan api neraka, walau itu hanya sebuah tindakan kecil, atau bisa dimisalkan sebuah duri yang mengganggu perjalanan. Maka ketika kita melakukan sebuah penyimpangan jalan tersebut, ada baiknya untuk mengejar ke arah Taqwa tadi kita bersegera mencari ampunan, beristigfar (ayat 133). Itulah gambaran orang bertaqwa, yang apabila dilengkapkan speknya yaitu orang yang mau meluangkan hartanya kapanpun dalam keadaan apapun, bisa menahan amarah (gambaran pada bulan Ramadhan), dan juga mau memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh indah dunia dengan keadaan Taqwa seperti ini, orang yang benar-benar bersih hati dan ikhlas, suatu goal yang diusung oleh Bulan Ramadhan. Orang-orang yang apabila melakukan kesalahan, tidak akan mengulanginya lagi, dan akan diganjar oleh ampunan dari Rabb serta Surga, dan akan kekal didalamnya apabila berhasil mempertahankan gelar Sarjana Taqwa hingga ajal menjemput. Untuk kajian lainnya, kata pelihara bisa dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 281.

Beratkah mengejar gelar Sarjana Taqwa?
Tentu iya, dan bahkan akan lebih berat ketika kita harus mempertahankan gelar Taqwa itu, harus ikhlas, totalitas dan Istiqamah. Tentunya berat akan terasa mudah bila kita melakukan perubahan, walau sedikit demi sedikit asal sedikit. Tentunya kita bisa menjadikan Bulan Ramadhan ini sebagai sarana pelatihan untuk merubah diri kita menjadi lebih baik. Dan tentunya Ramadhan ini bukan akhir, karena kembali kita diharapkan mampu bertahan dengan gelar ini hingga kita dijemput ajal kita.

Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni kita, senantiasa memberikan arah bagi hidup kita, baik kemudahan maupun kesulitan harus bisa kita hadapi, agar di pengadilan akhir nanti kita benar-benar akan diridhoi Allah SWT sebagai penghuni surga-Nya. Amin.

Sekian hasil tulis ulang hasil Tausiyah Ustadz Udin Spesial hari ini.
Billahi fii sabil haq.

—————————————————————————————————————–
-report eja, Ramadhan 1432 H-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.